weLcome !!!

Welcome !!!

21.10.10

Berdirinya Paramore

Paramore Pictures, gambar, foto, paramore
Paramore, band dengan genre musik alternative-rock ini terbentuk pada tahun 2004, mereka berkumpul jadi satu pada saat berada di franklin, tennessee USA. Pada saat itu Hayley William sang vokalis cewek pindah ke kota dan bertemu kakak adik bersaudara Josh Farro (Gitaris) dan Zac Farro (Drummer). Awal rencananya hanya bertiga akan tetapi kemudian mendapatkan personil baru yaitu Jason Bynum (Gitar-Rhythm) dan Jeremy Davis (Bass). Dari situ mereka berlima menjadi antusias untuk bermain musik dan membentuk group band yang diberi nama paramore.
Kombinasi musik yang dibawakan kakak beradik Josh Farro dan Zac Farro membawa energi positif dalam bermain musik yang banyak menarik perhatian masyarakat sekitar florida. Sekaligus disana mereka memulai debut pertama mereka di tahun 2005 dengan album “All We Know is Falling”. Setelah penyelesaian rekaman, mereka memulai tur jalanan yang pada saat itu bareng dengan band-band seperti simple plan dan story of the year. Tak lama kemudian, akhir tahun 2005, Bynum sang gitaris digantikan oleh William “Hunter” Lamb.
Di tahun 2006 mereka tidak membuat album, hanya tur ke kota-kota sekitar sekaligus menyiapkan album kedua mereka. Awal tahun 2007, tepatnya sekitar bulan maret, sang gitaris dengan sebutan “Hunter” yang menggantikan Bynum, William Lamb harus keluar dari band ini dikarenakan menikah. Dengan tersisa empat personil beserta dukungan yang antusias dari fans mereka, Paramore tetap melanjutkan bermusik, alhasil pada bulan juni 2007, album kedua mereka telah berhasil dirilis dengan judul “Riot!”., dengan lagu hit single mereka berjudul “Misery Business”. Disusul lagu andalan “Born For This” dan juga “Crushcrushcrush” yang bener-bener rame.
Dan kini Paramore mulai menggarap album ketiganya, “Ini waktunya kita pulang dan memainkan beberapa musik di rumah,” ujar sang vokalis Hayley Williams.
Hayley mengaku ingin secepatnya kembali ke kampung halaman untuk mulai mengabadikan karya mereka. Para personel Paramore mulai mengumpulkan materi albumnya selama menjalankan tur.
Walaupun tak sabar, Hayley mengaku tak mau buru-buru. Mereka menginginkan karya yang lugas dan murni tanpa keterpaksaan.
“Kami jelas tak akan buru-buru menggarap sesuatu atau memaksa lagu tersebut keluar secepatnya,” jelas Hayley.
Band asuhan dari label rekaman Fueled by Ramen (yang juga mengasuh Fall Out Boy dan Panic! at the Disco) ini mengetahui hal terakhir terpenting dari emo adalah emosi itu sendiri maka Hayley memainkan kericuhan emosi pada penonton dengan berfokus pada energi dan membawanya keluar.
Hayley secara umum menghindari baik gambaran kekerasan yang sering dikaitkan dengan provokasi musik rock ‘n’ roll dan gambaran seksual yang sering dikaitkan dengan musik pop. Mungkin berhubungan dengan hal lainnya juga, ia, adalah juga pemusik rock Kristiani; terlihat dari tulisan ucapan terima kasih pada album Paramore baru-baru ini, “Riot!” (Fueled by Ramen/Atlantic), setiap anggotanya berterima kasih kepada Yesus terlebih dahulu. Dan selagi Hayley menghindari lirik-lirik evangelikal yang terlalu berlebihan, kebanyakan dari lagu-lagu cinta band ini (seperti “Miracle!” dan “Hallelujah”) juga terdengar seperti narasi perubahan pada iman.
Dalam sebuah postingan di blog band-nya, Hayley mengekspresikan imannya dalam sebuah postingan diskusi mengenai lirik lagu “Misery Business,” yang mengucapkan, “God, does it feel so good.” Ia menjelaskan bahwa ketika ia mengarang lirik tersebut, ia menaruh kata Tuhan sebagai kata biasa saja, tetapi kemudian perspektif dia berbeda. “Saya mungkin telah membuat sebagian dari Anda percaya bahwa saya mengungkapkan Juruselamat saya dengan sekedar lewat saja. Dan saya tidak,” tulisnya, lalu menambahkan, “ketika saya menyanyikan bagian lirik tersebut, saya mengatakan kepada Tuhan bahwa itu terasa sangat baik dan nyaman bagi saya untuk berdiri sendiri dan mengalami kemenangan setelah mengalami bulan-bulan panjang merasakan kekecewaan dan terluka.”
Paramore memang menyatakan iman mereka dengan cara yang bold dan tidak malu-malu tanpa berusaha untuk mengkhotbahi. Seperti dalam sebuah wawancara dengan majalah Rolling Stone, ketika ditanyakan sebagai orang Kristiani yang setia, bagaimana mereka menghubungkan iman mereka dengan musik mereka, Hayley menjawab, “Saya mencoba untuk berbicara mengenai perjuangan dan ketidak-sempurnaan dan bahkan mempertanyakan iman Anda sewaktu-waktu. Itu adalah orang lain yang memaksakan iman mereka di mulut orang lain hingga menciptakan stigma melawan artis dengan latar belakang relijius.”
Paramore juga bekerjasama dengan organisasi non-profit yang banyak menolong anak muda dari keputus-asaan atau keinginan bunuh diri di AS, To Write Love On Her Arms, yang juga sebenarnya adalah organisasi non-profit bernilaikan kekristenan. Dikarenakan keterlibatan mereka dengan organisasi tersebut, reporter Absolute Punk mengungkapkan bahwa banyak orang menganggap mereka adalah band Kristiani, atau setidaknya sangat dipengaruhi oleh agama. Apakah benar mereka begitu?
Hayley: Kami sebenarnya adalah ateis. (tertawa) Tidak, kami pribadi masing-masing percaya kepada Yesus Kristus.
Josh: Kami Kristiani, tetapi kami bukan band Kristiani. Kami hanya seperti orang lain, you know? Kami memiliki iman kami sendiri.
Sebelum terkenal luas di dunia musik sekuler hingga mendapatkan nominasi Grammy Award di tahun 2008 kemarin, Paramore yang memiliki skill musikalitas patut diacungi jempol ini memang merangkak dari lingkup musik CCM (Christian Contemporary Music, red). Musik mereka memang sangat segar dan relevan bagi anak muda sekarang. Sangat menyenangkan untuk mengetahui bahwa pernyataan iman dan gaya hidup mereka tidaklah berubah di tengah puncak popularitas mereka.
Trivia about Paramore:
• Hayley, rocker perempuan yang memiliki scream yang cadas ini kelahiran tahun 1988. Dan yang termuda adalah Zac Farro yang kelahiran tahun 1990.
• Masa sekolah mereka tidak seperti bersekolah kebanyakan, tetapi homeschooling.
• Lagu Decode karya Paramore menjadi soundtrack untuk film remaja Twilight yang booming besar.
• Discography: All We Know Is Falling (2005), Riot! (2007).

20.10.10

MY CHEMICAL ROMANCE

Sebenarnya, merunut sejarah band bernama MY CHEMICAL ROMANCE [atau bisa juga disebut My Chem atau MCR] berarti kita bicara pengalaman pahit yang dilihat langsung oleh vokalisnya, Gerrard Way. Gerrard adalah salah satu saksi hidup ketika teroris meruntuhkan World Trade Center, 11 September 2001 silam. Rasa marah, kesal, gelisah, sedih dan resahnya kemudian dituangkan dalam lagu berjudul Skylines and Turntiles. Lagu itu juga menjadi semacam opening band yang akhirnya dibentuk oleh Gerrard Way bareng Matt ‘Otter’ Pellisier [drummer pertama yang sudah cabut].

Nama band sendiri diusulkan oleh basis Mike Way ketika membaca buku berjudul Ectassy: Three Tales of Chemical Romance, tulisan Irvine Welsh. Kini band yang diawaki juga oleh Bob Byar [drum], Frank Lero [rhythm gitar], Ray Toro [lead gitar] menjelma menjadi salah satu band papan atas di ranah rock. Mereka terbentuk September tahun 2001 di New Jersey.

MCR “nyaris” identik dengan musik yang berhubungan dengan kematian, horror dan kegelapan. Sebuah pilihan yang dari awal memang sudah mereka tonjolkan. Imej inilah yang MCR bentuk dari awal berdirinya, meski kemudian banyak kritikus musik ya menggolongkan mereka secara perlahan-lahan masuk dalam ranah emo. Tudingan sebagai “anak-anak emo” ini pernah secara kasar dilontarkan oleh band Inggris Kasabian yang menyebut MCR dengan “clowns” atau “emo kids”. Entah mengapa, Kasabian menyebut MCR sebagai satu band yang tidak punya sesuatu yang positif untuk dikatakan. Alamak, segitunya….

MCR juga pernah membatalkan beberapa konser lantaran ketika sedang menggarap video klip ‘Welcome to The Black Parade’ dan ‘Famous Last Words’ [bakal jadi single ke-2] yang digarap oleh Sam Bayer [pernah menggarap klip sukses Nirvana ‘Smells Like Teen Spirit’ dan American Idiot-nya Green Day]. Gara-garanya adalah Gerard Way cedera engkel sementara Bob Byar harus dirawat di rumah sakit karena infeksi. Untung saja dua kip yang sedang digarap sudah selesai.

MCR juga memilih menjadi band dengan basis massa ‘bawah tanah’ atau kelompok akar rumput [grassroots]. Mereka punya fans yang siap “mencaci-maki” habis-habisan dalam forum yang mereka bikin, termasuk di situs resmi mereka. Sisi positifnya adalah, MCR menolak segala atribut yang biasanya dilekatkan pada band, seperti ‘sex icon’ dan sebagainya. Fans membuat mereka menjadi “diri mereka sendiri”.

Album ketiga [yang major label] mereka The Black Parade menempatkan mereka pada tataran papan atas band pengusung alternative rock. Banyak kritikus yang menempatkan album ini sebagai ‘album paling ditunggu’ 2006. Single ‘Welcome to The Black Parade’ menjadi anthem yang wajib diputar [dan dinyanyikan]. Keberanian mempertahankan ciri “gelapnya” menjadikan My Chemical Romance sebagai ‘most wanted band’ terkini. [joko.moer]